KUMPULAN UNGKAPAN BIJAK DARI TOKOH TERKENAL SEBAGAI INSPIRASI JILID II


  • Neil Armstrong, Astronot AS

“Misteri menciptakan sebuah keingintahuan. Dan keingintahuan adalah basis dari niat manusia untuk mengerti sesuatu.”

  • Michael Dell, pendiri Dell Computer.

“Dengan keingintahuan dan melihat peluang baru, maka kita bisa memetakan perjalanan usaha. Pastikan, bahwa selalu ada kesempatan untuk mewujudkan hal yang berbeda.”

  • Arsene Wenger, Pelatih Arsenal

“Beberapa orang menjadi salah karena tak kuat menahan godaan. Dan beberapa yang lain menjadi salah karena tidak mengetahui.”

  • Desmond Tutu, Aktivis Anti-Apartheid Afsel

“Seorang manusia menjadi manusia karena dirinya mengakui orang lain sebagai manusia.”

  • Anouk Aimee, Aktris Legendaris Prancis

“Anda makin menyadari keindahan sejati seseorang seiring ia bertambah usia.”

  • Fyodor Dostoevsky, Novelis Rusia

“Kebahagiaan tidak terletak pada kebahagiaan itu sendiri, namun pada keberhasilan mencapainya.”

  • Victor Hugo, Sastrawan

“Kehidupan itu bak setangkai bunga di mana cinta menjadi madunya.”

  • Shunryu Suzuki, Master Zen

“Tanpa menerima fakta bahwa semuanya berubah, kita tidak akan mampu menemukan ketenangan.”

  • Bill Gates, Pendiri Microsoft

“Kesuksesan itu guru terburuk. Ia menggoda banyak orang-orang cerdas untuk berpikir bahwa mereka tidak dapat gagal.”

  • Erich Wolfgang Korngold, Komposer

“Aku menyukai ide perfeksionis sebagai kebiasaan kerja. Jika satu hal kurasakan tidak benar, maka akan terus kuulang-ulang lagi hingga sempurna.”

  • Sigmund Freud, Bapak Psikologi Modern

“Keberanian seseorang makin terukur ketika dia sangat yakin untuk rela dicintai.”

  • Agatha Christie, Novelis

“Aku menikahi seorang arkeologis; karena semakin aku tua, dia akan semakin menghargaiku.”

  • Rowan “Mr Bean” Atkinson, Komedian

“Camkanlah, jika Anda mampu mewujudkan kualitas yang baik, maka kemampuan menjual Anda akan mengikutinya secara alami.”

  • Alexander Agung

“Aku lebih baik mengungguli orang lain pada segi ilmu pengetahuan terbaikku daripada dalam segi kekuasaan dan dominasiku.”

  • Sandra Bullock, Aktris Hollywood

“Ketika Anda jatuh cinta, maka jalanilah — tak peduli apakah kemudian hati Anda akan terlukai atau tidak. Anda akan menjadi sosok lebih berharga.”

  • Gamal Abdel Nasser, Mantan Presiden Mesir

“Orang-orang itu tidak menginginkan kata-kata. Mereka menginginkan dengungan suara perjuangan, perjuangan melawan takdir.”

  • Pythagoras, Ahli Matematika

“Setiap masalah harusnya membuat kita melakukan aksi dan bukan terjebak situasi depresi. Mereka yang tidak bisa mengontrol diri tentulah menjadi orang terbelenggu.”

  • Eddie Murphy, Komedian AS

“Saya selalu memiliki kepercayaan diri. Karakter itu muncul karena saya selalu berusaha mempunyai inisiatif.”

  • Albert Einstein

“Imagination is more important than knowledge.”

  • Jane Seymour Fonda, Aktris-Aktivis Politik AS

“Untuk menjadi revolusioner, Anda harus menjadi manusia sejati. Anda harus peduli terhadap orang lain yang lemah.”

  • Eric Cantona, Mantan Pemain Legendaris MU

“Agar mendapatkan performa maksimal, maka Anda perlu secara konstan melawan kelemahan-kelemahan Anda.”

  • Jalaluddin Rumi, Sastrawan Sufi Persia Abad ke-13

“Logika itu tak berdaya dalam mengekspresikan cinta. Hanya cinta sendiri yang mampu mengungkap kebenaran cinta dan kesejatian diri sang pecinta.”

  • Estee Lauder, Pengusaha Kosmetik dan Parfum

“Awalnya, datang sekilas keinginan. Kemudian Anda harus berani menjadikannya cita-cita. Lalu bekerja keraslah untuk mewujudkannya.”

  • Woody Allen, Komedian-Aktor-Produser AS

“Menjadi seorang bahagia adalah dengan menghargai dan mencintai apa yang Anda punya; bukan apa yang tidak Anda punya.”

  • Maya Angelou, Penulis

“Prasangka buruk itu bak pengganjal yang menyengsarakan masa lalu, mengancam masa depan dan menggelapkan masa kini.”

  • Ralph Waldo Emerson, Filsuf-Penulis (1803 – 1882)

“Kepercayaan diri adalah esensi dari sikap kepahlawanan.”

  • Drew Barrymore, Aktris Hollywood

“Hidup itu sangat menarik, karena pada akhirnya beberapa dari kepedihan terdalam Anda akan berujung menjadi kekuatan terbesar Anda.”

  • Lao Tzu, Filsuf China

“Dicintai seseorang begitu mendalam akan memberi Anda kekuatan, mencintai seseorang begitu dalam akan memberikan Anda keberanian.”

  • John Kay

“Kesuksesan bisnis itu bukan meniru apa yang dikerjakan pebisnis lain dengan benar; namun melakukan aktivitas yang pebisnis lain justru tak mampu mengerjakannya dengan benar.”

  • Silvio Berlusconi, Mantan PM Italia

“Dari pengalaman saya sebagai pebisnis dan politisi, maka hubungan antara keduanya hanya ada pada satu kata: kebebasan.”

  • Thales (624-546 BC), Filsuf Yunani

“Tidak ada yang lebih aktif dari pikiran, karena ia mampu menjelajah seluruh semesta; dan, tidak ada yang lebih kuat dari kebutuhan, karena semua orang tertuntut memenuhinya.”

  • Tom Wolfe, Novelis AS

“Orang yang meraih sukses, kemenangan, dan kepuasan itu adalah mereka yang mampu menggunakan secara total bakat dan kemampuannya.”

  • Ho Chi Minh,Founding Father Vietnam

“Lebih baik mengorbankan segalanya daripada harus hidup dalam penindasan.”

  • Kirsten Dunst, Aktris Hollywood

“Rahasia nyata kehebatan seseorang adalah percaya diri, berusahalah mempunyai kepercayaan diri kuat dan memegang teguh setiap keputusan serta pemikiran kita.”

  • Christopher Reeve, Aktor Pemeran Superman

“Banyak impian kita yang semula tak mungkin, kemudian menjadi mungkin; lalu ketika kita kuat menghendakinya, segera ia makin menjadi kenyataan.”

  • Dr Susan Jeffers, Penulis Buku Laris Feel The Fear… And Beyond

“Kehadiran rasa takut pada diri merupakan indikator bahwa Anda terus berkembang dan menerima tantangan-tantangan hidup.”

  • John Lennon,Musisi The Beatles

“Cinta itu laksana sekuntum bunga, maka biarkanlah alami merekah.”

  • Miguel de Unamuno,Filsuf-Sastrawan Spanyol

“Tidak mencintai itu memang getir; namun jauh lebih getir jika tak mampu membuka hati guna mencintai.”

  • Albert Camus,Filsuf-Sastrawan Prancis

“Anda tak akan pernah bahagia jika terus mencari esensi kebahagiaan; Anda tak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan.”

  • Gong Li, Aktris

“Banyak orang mendorongku agar berada di ’tengah’ perhatian. Namun aku lebih suka berada di ’tepi’ perhatian, karena di situlah kita bisa melihat lebih. ”

  • Sumner Redstone,Pemilik dan CEO Viacom

“Kesuksesan tidak dibangun di atas kesuksesan. Ia dibangun di atas kegagalan. Ia dibangun di atas kefrustrasian. Bahkan, kadang kala ia dibangun di atas kehancuran.”

  • Vince Lombardi,Pelatih Legendaris NFL Washington Redskins

“Kepemimpinan haruslah berdasarkan nilai spiritual; yaitu adanya kekuatan untuk menginspirasi orang lain demi kepatuhan.”

  • Zig Ziglar,Penulis Masalah Motivasi AS

“Anda tak akan bisa menyadari potensi maksimum diri, kecuali Anda mempunyai tujuan hidup yang pasti, jelas, dan tepat.”

  • Chin-Ning Chu,Pakar Motivasi-Penulis Buku 50 Success Classics.

“Keberhasilan hidup itu diraih melalui pemahaman dan perjuangan untuk mengejar apa yang Anda cita-citakan, bukan yang dicita-citakan orang lain.”

  • Thomas Babington, Politisi-Sejarahwan

“Bukti tertinggi pencapaian sebuah nilai adalah memiliki kekuasaan tak terbatas namun tanpa menyalahgunakannya.”

  • William Blake, Sastrawan-Seniman

“Jauh lebih mudah berkenan memaafkan musuh daripada memaafkan kawan.”

  • Shailendra Verma, Sarjana Komputer Termuda dari India

“Anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak memerlukan belas kasihan, tetapi mereka membutuhkan peluang.”

  • Francis Bacon, Filsuf

“Tidaklah mungkin untuk bersamaan melakukannya: mencintai dan menjadi bijaksana.”

  • Bruce Lee,Aktor Laga Kungfu

“Jangan menjadi pohon kaku yang mudah patah. Jadilah bambu yang mampu bertahan melengkung melawan terpaan angin.”

  • J Paul Getty Sr, Pendiri Getty Oil Company

“Tiada seorang pun yang mampu meraih kesuksesan sejati dan ‘menjadi kaya’ dalam dunia usaha jika selalu mengedepankan sikap standar.”

  • Thomas Alfa Edison,Ilmuwan-Penemu

“Seorang jenius itu tercipta dari 1% inspirasi dan 99% keringat kerja keras.”

  • Emily Dickinson, Penyair AS

“Asa adalah sayap yang selalu mengepak di jiwa—dan melantunkan nada tanpa kata, tiada lelah.”

  • M Scott Peck, Psikologis

“Anda tak akan bisa menghargai waktu sampai Anda menghargai diri sendiri. Jika Anda tak menghargai waktu, maka Anda tak akan bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

  • Leo Buscaglia, Penulis AS

“Kadang kala kita meremehkan kekuatan sekepak sentuhan, seuntai senyuman, segatra kebaikan, setulus pujian atau sepercik sikap sayang—hal yang bermakna dalam bagi warna kehidupan kita.”

  • Dorothy C Fisher (1879 – 1958), Novelis AS

“Seorang ibu bukanlah tempat kita melabuhkan biduk segala rasa. Namun sosok ibu memberi semangat biduk itu untuk terus berlayar.”

  • Brian Tracy,Penulis Buku Self-Help dan Motivasi

“Sebuah visi hidup jelas, didukung dengan rencana-rencana, akan memberi Anda kepercayaan dan kekuatan pribadi teramat besar.”

  • Ralph Nader,Politikus

“Guru terbaik Anda adalah kesalahan terakhir yang Anda buat. ”

  • Bunda Teresa

“Kasih damai diawali dengan seuntai senyuman… Kita tak akan bisa melakukan sesuatu yang besar, hanya hal kecil dalam balutan kasih sayang yang besar.”

  • Soren Kierkegaard,Filsuf Denmark

“Hidup harus dipahami dari perspektif masa lalu; namun harus dijalani dari perspektif masa depan.”

  • John Kanary,Penulis Buku Breaking Through Limitations

“Lawanlah keraguan dengan tindakan, maka Anda akan selangkah lebih maju. Keraguan dan tindakan adalah dua hal yang saling berlawanan.”

  • Peter Drucker, Maha Guru Manajemen

“Fungsi utama manajemen adalah membuat semua orang produktif.”

  • Erasmus, Ilmuwan-Theolog

“Hanya tangan yang bisa menghapus yang mampu menoreh kebenaran sejati.”

  • Henri Frederic Amiel (1821-1881),Penulis Swiss

“Pengorbanan selalu menyeruak di mana pun; dan, di mana pun dari satu generasi selalu ada yang terpilih untuk mengalami penderitaan demi mengemban keselamatan kaumnya.”

  • Sun Tzu, Filsuf

“Kenali musuh dan kenali diri Anda; maka Anda tak akan pernah terancam dalam seratus pertempuran.”

  • Ernest Renan 1823–1892), Filsuf-Penulis Prancis

“Manusia menganggap suci apa yang dia yakini, seperti menganggap indah apa yang dia cintai.”

  • GW Von Leibnitz, Matematikawan Penemu Kalkulus

“Mencintai artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan orang yang kita cintai.”

  • Paulo Coelho,Penulis Brasil

“Securah keberkahan yang terabaikan akan dapat berubah menjadi secabik kutukan.”

  • Ken Blanchard, Penulis Buku Self Leadership and The One Minute Manager (2005)

“Jangan mengoceh seperti seekor bebek. Namun terbanglah menjelajah seperti elang.”

  • Alexander Graham Bell, Ilmuwan-Penemu

“Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka. Namun, kita seringkali terpaku menyesali pintu yang tertutup itu, hingga tak bisa melihat pintu lain yang terbuka bagi kita.”

  • Mary Anne Evans ”George Elliot”, Novelis Inggris (1819 – 1880)

“Orang seringkali harus merasakan kondisi kekurangan untuk bisa merasakan betapa mewahnya suatu pemberian.”

Iklan

KUMPULAN UNGKAPAN BIJAK DARI TOKOH TERKENAL SEBAGAI INSPIRASI JILID I


  • Stephen Covey, Mahaguru Leadership

”Hidupkan imajinasi Anda, bukan pengalaman-pengalaman masa lalu”

  • Socrates, Filsuf

“Hidup yang tak terevaluasi adalah hal yang sia-sia”

  • Bill Cosby, aktor

“Saya tak tahu apa kunci sukses. Yang saya tahu, kunci kegagalan berpangkal pada perilaku menjilat semua orang.”

  • Deng Xiaoping, Negarawan China

“Tak masalah jika seekor kucing itu berwarna hitam atau putih. Yang terpenting ia bisa menangkap tikus”

  • Eleanor Roosevelt (1884 – 1962)

“Manusia berkembang jika melalui pengalaman hidup yang penuh kejujuran dan keberanian. Karena dari sanalah karakter tertempa”

  • Soekarno (1901-1970)

”Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat”

  • Jane Austen, Penulis

“Persahabatan itu tidak sama dengan berbisnis. Karena ia tidak mendatangkan materi.”

  • Oprah Winfrey, Ratu Talk Show

“Integritas sejati adalah mengerjakan segala sesuatunya dengan benar, walaupun orang lain memperhatikan Anda atau tidak.”

  • John F. Kennedy, mantan presiden AS

“Jika kita tak dapat mengakhiri perbedaan yang ada. Paling tidak, marilah kita menciptakan dunia yang tentram dalam kondisi berbeda itu.”

  • Mztolo

“Kecantikan tidak hanya bisa dilihat dengan mata tetapi juga bisa didengar dengan telinga.”

“Kesetiaan tidak perlu dijawab, karena dia akan beriringan dengan waktu.”

  • Kahlil Gibran, Sastrawan

“Hari kemarin adalah kenangan hari ini, hari esok adalah impian hari ini.”

  • Goethe (1749-1832), sastrawan Jerman

“Menurut Anda, kapan kah manusia itu menjadi sosok paling tak berguna? Yaitu saat mereka tak bisa memerintah dan patuh pada perintah.”

  • William Shakespeare

“Kemenangan itu bak lingkaran gelombang di permukaan air, yang tak pernah berhenti melebarkan dirinya. terus melebar hingga akhirnya hilang tak berwujud.”

  • Bertrand Russell (1827-1970), Marriage and Morals

“Mereka yang takut akan cinta adalah mereka yang takut akan hidup. Dan mereka yang takut akan hidup berarti telah merasakan sepertiga kematian.”

  • Margareth Thatcher, Mantan PM Inggris

“Setiap wanita yang memahami masalah mengelola sebuah rumah, akan mendekati memahami masalah mengelola sebuah negara.”

  • J Sudarminta SJ (SOSOK / Kompas 12052007)

“Nyekel iwake ora buthek banyune (cara menyelesaikan masalah dengan cara menangkap ikannya tanpa membuat airnya menjadi keruh)”

“Fortiter in re suaviter in modo (tegas dalam masalah, halus dalam cara melakukan kritik.”

  • Hatta Rajasa (dlm wawancara dengan Media Indonesia 12052007)

“My loyality to the party ends when loyality to the country began, loyalitas pada partai berakhir pada saat harus bekerja untuk negara.”

  • Muhammad Ali

“Diam itu memang emas, terutama kala Anda tidak bisa berpikir memberi jawaban terbaik.”

  • Elle Woods (legally blonde 2)

“Satu kejujuran lebih berharga dari pada mayoritas suara.”

“Jangan tanya apa yg telah sahabatmu berikan, tapi tanyalah apa yg telah engkau berikan kepada yang bersahabat dengan mu.”

Kisah mungkin ada manfaatnya buat suami atau istri


Semoga kisah di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

By alyaazahra Posted in Kisah

Variasi Orang Kentut, Kamu yang Mana?


Orang jujur Orang yang mau mengaku kalau sudah kentut

Orang tak jujur Orang yang kentut malah nyalahin orang lain

Orang bodoh Orang yang menahan kentut berjam-jam lamanya

Orang berwawasan Orang yang tahu kapan waktunya harus kentut

Orang misterius Orang yang kentut tapi orang lain tidak ada yang tahu

Orang percaya diri Orang yang yakin kalau kentutnya bau

Orang sadis Kalo kentut sambil dibekap dengan tangan kemudian dibekapkan ke hidung orang lain

Orang Pemalu Orang yang kentutnya ngga ketahuan tapi malu sendiri

Orang Stratejik Orang yang kentut sambil ketawa sekencang-kencangnya untuk nutupin suara kentutunya

Orang hemat Kalo sudah kentut dia tarik nafas untuk mengganti kentutnya yang keluar

Orang pintar Orang yang bisa mengetahui kentut orang lain Orang sakti Kalo kentut menggunakan tenaga dalam

Orang pelit Kalo kentut dikeluarin sedikit-sedikit sampai bunyinya tit…tit…tit…

Orang sombong Orang yang suka nyiumin kentutnya sendiri

Orang ramah Orang yang suka nyiumin kentut orang lain Orang tengil Orang yang kentut sambil ngupil

Orang keras kepala Orang yang langsung membalas setelah di kentuti orang di sebelah.

Orang Amit2 Orang yang sehabis kentut lalu memasang muka imut

Kentut berdasarkan frekuensi :

Kentut minimal 3 kali sehari = Orang sehat

Kentut minimal 5 kali sehari = Normal

Kentut minimal 8 kali sehari = Salah makan

Kentut minimal 15 kali sehari = Abnormal

Kentut berfrekuensi 15.000 HZ = Bomber

Kentut bertubi-tubi = Machine gunner

Kentut tak bersuara = Stealth killer, misterius

Kentut disini yang kena disana = Sniper

Pengen kentut dipaksa-paksa tapi yang keluar ampasnya = *****

Orang kurang kerjaan = YANG BACA

Orang gila = Kerjanya meneliti kentu

Bapak Tua Penjual Amplop Itu


19 November 2011 oleh rinaldimunir

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

By alyaazahra Posted in Kisah